mualaf-ilustrasi-_140810150610-262Tuduhan Keji Terhadap Istri Tercinta Nabi, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mereka menuduh ‘Aisyah ra telah berzina. Dan non muslim sekarang mengatakan QS An Nuur ayat 11 adalah bikinan Muhammad saw untuk membela ‘Aisyah.

TANGGAPAN :

Assalamualaikum Wr.WB

(oleh : Khairunnisa)

Banyak dari kita umat Islam tidak mengetahui persis kejadian fitnah berzina yang dialami Istri Rasulullah saw, Ibunda ‘Aisyah ra. Ada baiknya kita kupas dan mengambil hikmah dan pelajaran dari kisah tersebut.

Kronologis kejadian fitnah terhadap ibunda ‘Aisyah ra :

Hadis riwayat Aisyah ra., istri Nabi saw. ia berkata : Apabila Rasulullah saw. hendak keluar dalam suatu perjalanan selalu mengadakan undian di antara para istri beliau dan siapa di antara mereka yang keluar undiannya, maka Rasulullah saw. akan berangkat bersamanya.
Aisyah ra berkata : Lalu Rasulullah saw. mengundi di antara kami untuk menentukan siapa yang akan ikut dalam perang dan ternyata keluarlah undianku sehingga aku pun berangkat bersama Rasulullah saw. Peristiwa itu terjadi setelah diturunkan ayat hijab (Al-Ahzab ayat 53) di mana aku dibawa dalam sekedup dan ditempatkan di sana selama perjalanan kami.

Pada suatu malam ketika Rasulullah saw. selesai berperang lalu pulang dan kami telah mendekati Madinah, beliau memberikan aba-aba untuk berangkat. Aku pun segera bangkit setelah mendengar mereka mengumumkan keberangkatan lalu berjalan sampai jauh meninggalkan pasukan tentara. Seusai melaksanakan hajat, aku hendak langsung menghampiri unta tungganganku namun saat meraba dada, ternyata kalungku yang terbuat dari mutiara Zifar putus. Aku pun kembali untuk mencari kalungku sehingga tertahan karena pencarian itu. Sementara orang-orang yang bertugas membawaku mereka telah mengangkat sekedup itu dan meletakkannya ke atas punggung untaku yang biasa aku tunggangi karena mereka mengira aku telah berada di dalamnya.
Ia menambahkan: Kaum wanita pada waktu itu memang bertubuh ringan dan langsing tidak banyak ditutupi daging karena mereka hanya mengkomsumsi makanan dalam jumlah sedikit sehingga orang-orang itu tidak merasakan beratnya sekedup ketika mereka mengangkatnya ke atas unta. Apalagi ketika itu aku anak perempuan yang masih belia. Mereka pun segera menggerakkan unta itu dan berangkat.
Aku baru menemukan kalung itu setelah pasukan tentara berlalu. Kemudian aku mendatangi tempat perhentian mereka, namun tak ada seorang pun di sana. Lalu aku menuju ke tempat yang semula dengan harapan mereka akan merasa kehilangan dan kembali menjemputku. Ketika aku sedang duduk di tempatku rasa kantuk mengalahkanku sehingga aku pun tertidur. Ternyata ada Shafwan bin Muaththal As-Sulami Az-Dzakwani yang tertinggal di belakang pasukan sehingga baru dapat berangkat pada malam hari dan keesokan paginya ia sampai di tempatku.
Dia melihat bayangan hitam seperti seorang yang sedang tidur lalu ia mendatangi dan langsung mengenali ketika melihatku karena ia pernah melihatku sebelum diwajibkan hijab. Aku terbangun oleh ucapannya, “inna lillaahi wa inna ilaihi raji`uun” pada saat dia mengenaliku. Aku segera menutupi wajahku dengan kerudung dan demi Allah, dia sama sekali tidak mengajakku bicara sepatah kata pun dan aku pun tidak mendengar satu kata pun darinya selain ucapan “inna lillahi wa inna ilaihi raji`uun”. Kemudian ia menderumkan untanya dan memijak kakinya, sehingga aku dapat menaikinya. Dan ia pun berangkat sambil menuntun unta yang aku tunggangi hingga kami dapat menyusul pasukan yang sedang berteduh di tengah hari yang sangat panas.
Maka celakalah orang-orang yang telah menuduhku di mana yang paling besar berperan ialah Abdullah bin Ubay bin Salul.

Sampai kami tiba di Madinah dan aku pun segera menderita sakit setiba di sana selama sebulan. Sementara orang-orang ramai membicarakan tuduhan para pembuat berita bohong padahal aku sendiri tidak mengetahui sedikit pun tentang hal itu. Yang membuatku gelisah selama sakit adalah bahwa aku tidak lagi merasakan kelembutan Rasulullah saw. yang biasanya kurasakan ketika aku sakit. Rasulullah saw. hanya masuk menemuiku, mengucapkan salam, kemudian bertanya: Bagaimana keadaanmu?
Hal itu membuatku gelisah, tetapi aku tidak merasakan adanya keburukan, sampai ketika aku keluar setelah sembuh bersama Ummu Misthah ke tempat pembuangan air besar di mana kami hanya keluar ke sana pada malam hari sebelum kami membangun tempat membuang kotoran (WC) di dekat rumah-rumah kami. Kebiasaan kami sama seperti orang-orang Arab dahulu dalam buang air. Kami merasa terganggu dengan tempat-tempat itu bila berada di dekat rumah kami.
Aku pun berangkat dengan Ummu Misthah, seorang anak perempuan Abu Ruhum bin Muthalib bin Abdi Manaf dan ibunya adalah putri Shakher bin Amir, bibi Abu Bakar Sidik. Putranya bernama Misthah bin Utsatsah bin Abbad bin Muththalib. Aku dan putri Abu Ruhum langsung menuju ke arah rumahku sesudah selesai buang air. Tiba-tiba Ummu Misthah terpeleset dalam pakaian yang menutupi tubuhnya sehingga terucaplah dari mulutnya kalimat: Celakalah Misthah!

Aku berkata kepadanya : Alangkah buruknya apa yang kau ucapkan! Apakah engkau memaki orang yang telah ikut serta dalam perang Badar?

Ummu Misthah berkata : Wahai junjunganku, tidakkah engkau mendengar apa yang dia katakan?

Aku menjawab : Memangnya apa yang dia katakan?
Ummu Misthah lalu menceritakan kepadaku tuduhan para pembuat cerita bohong sehingga penyakitku semakin bertambah parah.
Ketika aku kembali ke rumah, Rasulullah saw masuk menemuiku, beliau mengucapkan salam kemudian bertanya : Bagaimana keadaanmu?

Aku berkata : Apakah engkau mengizinkan aku mendatangi kedua orang tuaku ? Pada saat itu aku ingin meyakinkan kabar itu dari kedua orang tuaku. Begitu Rasulullah saw. memberiku izin, aku pun segera pergi ke rumah orang tuaku.
Sesampai di sana, aku bertanya kepada ibu : Wahai ibuku, apakah yang dikatakan oleh orang-orang mengenai diriku?
Ibu menjawab : Wahai anakku, tenanglah! Demi Allah, jarang sekali ada wanita cantik yang sangat dicintai suaminya dan mempunyai beberapa madu, kecuali pasti banyak berita kotor dilontarkan kepadanya.

Aku berkata : Maha suci Allah! Apakah setega itu orang-orang membicarakanku?
Aku menangis malam itu sampai pagi air mataku tidak berhenti mengalir dan aku tidak dapat tidur dengan nyenyak. Pada pagi harinya, aku masih saja menangis.
Beberapa waktu kemudian Rasulullah saw memanggil Ali bin Abu Thalib dan Usamah bin Zaid untuk membicarakan perceraian dengan istrinya ketika wahyu tidak kunjung turun. Usamah bin Zaid memberikan pertimbangan kepada Rasulullah saw. sesuai dengan yang ia ketahui tentang kebersihan istrinya (dari tuduhan) dan berdasarkan kecintaan dalam dirinya yang ia ketahui terhadap keluarga Nabi saw.

Ia berkata : Ya Rasulullah, mereka adalah keluargamu dan kami tidak mengetahui dari mereka kecuali kebaikan. Sedangkan Ali bin Abu Thalib berkata: Semoga Allah tidak menyesakkan hatimu karena perkara ini, banyak wanita selain dia (Aisyah). Jika engkau bertanya kepada budak perempuan itu (pembantu rumah tangga Aisyah) tentu dia akan memberimu keterangan yang benar.
Lalu Rasulullah saw memanggil Barirah (jariyah yang dimaksud) dan bertanya : Hai Barirah! Apakah engkau pernah melihat sesuatu yang membuatmu ragu tentang Aisyah?

Barirah menjawab : Demi Dzat yang telah mengutusmu membawa kebenaran! Tidak ada perkara buruk yang aku lihat dari dirinya kecuali bahwa Aisyah adalah seorang perempuan yang masih muda belia, yang biasa tidur di samping adonan roti keluarga lalu datanglah hewan-hewan ternak memakani adonan itu.

Kemudian Rasulullah saw berdiri di atas mimbar meminta bukti dari Abdullah bin Ubay bin Salul. Di atas mimbar itu, Rasulullah saw bersabda : Wahai kaum muslimin, siapakah yang mau menolongku dari seorang yang telah sampai hati melukai hati keluarga? Demi Allah! Yang kuketahui pada keluargaku hanyalah kebaikan. Orang-orang juga telah menyebut-nyebut seorang lelaki yang kuketahui baik. Dia tidak pernah masuk menemui keluargaku (istriku) kecuali bersamaku.
Maka berdirilah Saad bin Muaz Al-Anshari seraya berkata : Aku yang akan menolongmu dari orang itu, wahai Rasulullah. Jika dia dari golongan Aus, aku akan memenggal lehernya dan kalau dia termasuk saudara kami dari golongan Khazraj, maka engkau dapat memerintahkanku dan aku akan melaksanakan perintahmu.
Mendengar itu, berdirilah Saad bin Ubadah. Dia adalah pemimpin golongan Khazraj dan seorang lelaki yang baik tetapi amarahnya bangkit karena rasa fanatik golongan.

Dia berkata tertuju kepada Saad bin Muaz : Engkau salah! Demi Allah, engkau tidak akan membunuhnya dan tidak akan mampu untuk membunuhnya!

Lalu Usaid bin Hudhair saudara sepupu Saad bin Muaz, berdiri dan berkata kepada Saad bin Ubadah : Engkau salah! Demi Allah, kami pasti akan membunuhnya! Engkau adalah orang munafik yang berdebat untuk membela orang-orang munafik.
Bangkitlah amarah kedua golongan yaitu Aus dan Khazraj, sehingga mereka hampir saling berbaku-hantam dan Rasulullah saw. masih berdiri di atas mimbar terus berusaha meredahkan emosi mereka mereka hingga mereka diam dan Rasulullah saw. diam.

Sementara itu, aku menangis sepanjang hari, air mataku tidak berhenti mengalir dan aku pun tidak merasa nyenyak dalam tidur. Aku masih saja menangis pada malam berikutnya, air mataku tidak berhenti mengalir dan juga tidak merasa enak tidur. Kedua orang tuaku mengira bahwa tangisku itu akan membelah jantungku.
Ketika kedua orang tuaku sedang duduk di sisiku yang masih menangis, datanglah seorang perempuan Ansar meminta izin menemuiku. Aku memberinya izin lalu dia pun duduk sambil menangis. Pada saat kami sedang dalam keadaan demikian, Rasulullah saw. masuk. Beliau memberi salam, lalu duduk. Beliau belum pernah duduk di dekatku sejak ada tuduhan yang bukan-bukan kepadaku, padahal sebulan telah berlalu tanpa turun wahyu kepada beliau mengenai persoalanku.
Rasulullah saw. mengucap syahadat pada waktu duduk kemudian bersabda : Selanjutnya. Hai Aisyah, sesungguhnya telah sampai kepadaku bermacam tuduhan tentang dirimu. Jika engkau memang bersih, Allah pasti akan membersihkan dirimu dari tuduhan-tuduhan itu. Tetapi kalau engkau memang telah berbuat dosa, maka mohonlah ampun kepada Allah dan bertobatlah kepada-Nya. Sebab, bila seorang hamba mengakui dosanya kemudian bertobat, tentu Allah akan menerima tobatnya.

Ketika Rasulullah saw. selesai berbicara, air mataku pun habis sehingga aku tidak merasakan satu tetespun terjatuh.

Lalu aku berkata kepada ayahku : Jawablah untukku kepada Rasulullah saw. mengenai apa yang beliau katakan.

Ayahku menyahut : Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan kepada Rasulullah saw.

Kemudian aku berkata kepada ibuku : Jawablah untukku kepada Rasulullah saw.!

Ibuku juga berkata : Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan kepada Rasulullah saw.

Maka aku pun berkata : Aku adalah seorang perempuan yang masih muda belia. Aku tidak banyak membaca Alquran. Demi Allah, aku tahu bahwa kalian telah mendengar semua ini, hingga masuk ke hati kalian, bahkan kalian mempercayainya. Jika aku katakan kepada kalian, bahwa aku bersih dan Allah pun tahu bahwa aku bersih, mungkin kalian tidak juga mempercayaiku. Dan jika aku mengakui hal itu di hadapan kalian, sedangkan Allah mengetahui bahwa aku bersih, tentu kalian akan mempercayaiku. Demi Allah, aku tidak menemukan perumpamaan yang tepat bagiku dan bagi kalian, kecuali sebagaimana dikatakan ayah Nabi Yusuf: Kesabaran yang baik itulah kesabaranku. Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kalian ceritakan.
Kemudian aku pindah dan berbaring di tempat tidurku. Demi Allah, pada saat itu aku yakin diriku bersih dan Allah akan menunjukkan kebersihanku. Tetapi, sungguh aku tidak berharap akan diturunkan wahyu tentang persoalanku. Aku kira persoalanku terlalu remeh untuk dibicarakan Allah Taala dengan wahyu yang diturunkan. Namun, aku berharap Rasulullah saw. akan bermimpi bahwa Allah membersihkan diriku dari fitnah itu.
Rasulullah saw. belum lagi meninggalkan tempat duduknya dan tak seorang pun dari isi rumah ada yang keluar, ketika Allah Taala menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya. Tampak Rasulullah saw. merasa kepayahan seperti biasanya bila beliau menerima wahyu, hingga bertetesan keringat beliau bagaikan mutiara di musim dingin, karena beratnya firman yang diturunkan kepada beliau. Ketika keadaan yang demikian telah hilang dari Rasulullah saw. (wahyu telah selesai turun), maka sambil tertawa perkataan yang pertama kali

beliau ucapkan adalah : Bergembiralah, wahai Aisyah, sesungguhnya Allah telah membersihkan dirimu dari tuduhan.

Lalu ibuku berkata kepadaku : Bangunlah! Sambutlah beliau!

Aku menjawab : Demi Allah, aku tidak akan bangun menyambut beliau. Aku hanya akan memuji syukur kepada Allah. Dialah yang telah menurunkan ayat Alquran yang menyatakan kebersihanku. Allah Taala menurunkan ayat: Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golonganmu juga, dan sepuluh ayat berikutnya. Allah menurunkan ayat-ayat tersebut yang menyatakan kebersihanku.

Abu Bakar yang semula selalu memberikan nafkah kepada Misthah karena kekerabatan dan kemiskinannya, pada saat itu mengatakan: Demi Allah, aku tidak akan lagi memberikan nafkah kepadanya sedikitpun selamanya, sesudah apa yang dia katakan terhadap Aisyah.
Sebagai teguran atas ucapan itu, Allah menurunkan ayat selanjutnya ayat: Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kalian, bersumpah bahwa mereka tidak akan memberi bantuan kepada kaum kerabat mereka, orang-orang miskin sampai pada firman-Nya: Apakah kalian tidak ingin bahwa Allah mengampuni kalian. (Hibban bin Musa berkata: Abdullah bin Mubarak berkata: Ini adalah ayat yang paling aku harapkan dalam Kitab Allah).
Maka berkatalah Abu Bakar: Demi Allah, tentu saja aku sangat menginginkan ampunan Allah. Selanjutnya dia (Abu Bakar) kembali memberikan nafkah kepada Misthah seperti sediakala dan berkata: Aku tidak akan berhenti memberikannya nafkah untuk selamanya.

Aisyah meneruskan: Rasulullah saw. pernah bertanya kepada Zainab binti Jahsy, istri Nabi saw. tentang persoalanku: Apa yang kamu ketahui? Atau apa pendapatmu?
Zainab menjawab: Wahai Rasulullah, aku selalu menjaga pendengaran dan penglihatanku (dari hal-hal yang tidak layak). Demi Allah, yang kuketahui hanyalah kebaikan.
Aisyah berkata: Padahal dialah yang menyaingi kecantikanku dari antara para istri Nabi saw. Allah menganugerahinya dengan sikap warak (menjauhkan diri dari maksiat dan perkara meragukan) lalu mulailah saudara perempuannya, yaitu Hamnah binti Jahsy, membelanya dengan rasa fanatik (yakni ikut menyebarkan apa yang dikatakan oleh pembuat cerita bohong). Maka celakalah ia bersama orang-orang yang celaka. (HR Bukhari dan Muslim: 1582)

Sebagai seorang muslim maka tak ada alasan lagi untuk mempersoalkan masalah ini. Karena Allah langsung telah mensucikan dan membersihkan nama Bunda ‘Aisyah ra sampai 10 ayat berturut-turut. Seandainya Al Quran ini adalah ciptaan Muhammad saw, tentulah Beliau dapat dengan segera menghapus berita bohong (fitnah) tersebut dengan mengatasnamakan wahyu, dan bila itu terjadi, tidaklah seorang muslim pun meragukannya. Alangkah indah perangai Rasulullah saw, Ia terpaksa harus hidup menderita, menanggung beban kegelisahan yang begitu lama hanya untuk menunggu turunnya wahyu yang membenarkan. Kita tak usah peduli fitnah dari non muslim yang hanya mencari-cari kejelekan Rasulullah dan keluarganya, pembelaan mana lagi yang bisa mengalahkan kesaksian Allah dalam QS An Nuur ayat 11-20. Ayat ini diabadikan dan terus kita baca hingga akhir zaman guna menunjukkan bahaya fitnah.

Kajian QS An Nuur ayat 11-20 :

Ayat (11)
” Sesungguhnya orang-orang yang datang membawa berita bohong itu adalah golongan kamu. Janganlah kamu menganggapnya buruk bagi kamu bahkan ia adlah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka memperoleh apa yang dia kerjakan dari dosa itu. Dsan siapa yang mengambil bagian yang terbesar di dalamnya di antara mereka, baginya azab yang besar,”
Ayat-ayat yang lalu berbicara tentang tuduhan melakukan penyelewengan terhadap wanita-wanita yang suci, dan cara penyelesainnya, kemudian disusul dengan tuntutan hokum bila tuduhan tersebut dilakukan oleh suami terhadap istrinya. Sanksi dan dampak tuduhan itu sangat berat dan buruk. Nah, di sini Alah mengemukakan suatu kasus serupa yang terjadi terhadap keluarga Nabi Muhammad saw. Ayat ini mengecam mereka yang menuduh isteri beliau ‘Aisyah ra. Tanpa bukti-bukti. Alah berfirman : sesungguhnya orang-orang yang membawa yakni menyebarluaskan secara sengaja berita bohong yang keji itu menyangkut kehormatan keluarga Nabi Muhamad adalah dari golongan yang dianggap bagian dari komuitas kamu yakni yang hidup di tengah kamu wahai kaum mukminin. Janganlah kamu menganggapnya yakni menganggap berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu karena dengan demikian kamu dapat membedakan siapa yang munafik dan siapa yang kuat imannya. Tiap-tiap seseorang dari mereka yang menyebarkan rumor itu memperoleh balasan sesuai kadar apa yang dengan sengaja dan sungguh-sungguh dia kerjakan dari dosa isu buruk itu. Dan siapa yang mengambil bagian yang terbesar yakni yang menjadi sumber serta pemimpin kelompok itu di dalamnya yakni dalam penyiaran berita bohong itu, diantara mereka yang menyebarkannya maka baginya azab yang besar di akhirat nanti.

Kata al-ifk terambil dari kata al-afku yaitu keterbalikan baik material seperti akibat gempa yang mengjungkirbalikan negeri, maupun immaterial seperti keindahan bila dilukiskan dalam bentuk keburukan atau sebaliknya. Yang dimaksud disini adalah kebohongan besar, karena kebohongan adalah pemutarbalikan fakta.
Kata ‘ushbah terambil dari kata ‘ashaba yang pada mulanya berarti mengikat dengan keras. Dari akar kata yang sama lahir kata muta’ashshib yakni fanatik, juga kata’ishabah yakni kelompok pembangkang. Kata yang digunakan al-Quran ini dipahami dalam arti kelompok yang terjalin kuat oleh satu ide, dalam hal ini isu negative itu jumlah mereka antara sepuluh sampai empat puluh orang, atau menurut pendapat lain dari tiga sampai sepuluh orang. Diperoleh kesan dari kata ini bahwa ada diantara mereka telah berkomplot untuk melakukan fitnah besar guna mencemarkan nama baik kelarga Nabi dan merusak rumah tangga beliau.
Riwayat-riwayat menyebut sekian nama selain ‘Abdullah Ibn Ubayy Ibn Salul pemimpin kelompok itu, antara lain sahabat dan penyair Nabi yaitu Hassan Ibn Tsabit, Misthah Ibn Atsatsah dan Hmnah (saudara perempuan isteri Nabi saw yakni Zainab binti Jahsy). Sekian banyak ulama meragukan keterlibatan Hassan, walaupun namanya disebut-sebut bahkan al-Biqa’I dan beberapa ulama lainnya sangat meragukan keterlibatan Hassan mengingat kecintaan yang begitu besar serta pembelaannya kepada Rasul saw. memang bias saja periwayat-periwayat yang jujur keliru dalam menyampaikan informasinya. Demikian dituli al-Biqa’I menjawab sanggahan yang boleh jadi muncul dari siapa yang menyatakan bahwa riwayat tersebut disampaikan oleh orang-orang jujur sesuai informasi al-Bukhari dalam shahih-nya.
Firman-Nya : Janganlah kamu menganggapnya buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Dapat dipahami dalam arti khusus bagi mereka yang terkena langsung dampak fitnah itu dalam hal ini Nabi saw dan keluarga beliau karena dengan peristiwa ini, Alah menurunkan ayat al-Quran yang dibaca sepanjang masa menyatakan tentang kesucian mereka. Ia juga baik untuk masyarakat muslim secara keseluruhan, karena dengan diketahuinya penyebar isu itu, masyarakat akan berhati-hati dari ulah mereka, serta dapat pula mereka meluruskan kesalahan anggota masyarakat lain yang keliru. Bahkan umat manusia secara keseluruhan akan memperoleh manfaat dan kebaikan bila mengikuti tuntunan ayat-ayat yang turun dalam konteks peristiwa pencemaran nama baik keluarga Nabi Muhamad saw itu.
Kata iktasaba menunjukan bahwa penyebaran isu itu dilakukan dengan sungguh-sungguh. Ini bukan saja dipahami dari kata kasaba yang mengandung makna usaha, tetapi juga dari penambahan huruf ta’ pada kata tersebut.
Ketika menjelaskan QS. Al-Baqarah [2] :286 yang menggunakan kata kasaba dan iktasaba, penulis lain mengemukakan bahwa : al-Quran menggunakan kata kasaba untuk menggambarkan usaha yang baik, dan kata iktasaba untuk usaha yang buruk. Walaupun keduannya berakar kata sama , tetapi kandungan maknanya berbeda. Patron kata iktasaba digunakan untuk menunjuk adanya kesungguhan, serta usaha ekstra. Berbeda dengan kasaba, yang berarti melakukan sesuatu dengan mudah dan tidak disertai dengan usaha sungguh-sungguh. Penggunaan kata kasaba dalam menggambarkan hal positif, memberi isyarat bahwa kebaikan walau baru dalam bentuk niat dan belum wujud dalam kenyataan, sudah mendapat imbalan dari Alah. Berbeda dengan keburukan. Ia baru dicatat sebagai dosa setelah diusahakan dengan kesungguhan dan lahir dalam kenyataan. Disamping itu, penggunaan kata tersebut juga menggambarkan , bahwa pada prinsipnya jiwa manusia cenderung berbuat kebajikan. Kejahatan pada mulanya dilakukan manusia dengan kesungguhan dan dengan usaha ekstra, karena kejahatan tidak sejalan dengan bawaan dasar manusia. Bandingkanlah keadaan kedua orang tua berikut : Yang pertama berjalan dengan isterinya, ia akan berjalan santai, tidak khawatir dilihat orang, masuk ke rumah di malam hari, dan di ketahui orang banyak pun tidak menjadi persoalan baginya. Berbeda dengan seorang pria yang berjalan dengan wanita tuna susila. Jalannya hati-hati, ia menoleh kr kiri dan ke kanan, khawatir katahuan orang. Demikian terlihat kebaikan dilakukan dengan santai dan kejahatan dengan upaya ekstra.
Kata kibrahu terambil dari kata kibr atau kubr yang digunakan dalam yang terbanyak dan terbesar. Yang dimaksud di sini adalah yang paling banyak terlibat dan paling besar peranannya dalam penyebaran isu tersebut.
Ayat di atas menegaskan adanya siksa yang pedih bagi yang terlibat langsung dalam penyebaran isu itu, khususnya yang paling berperan. Ulama berbeda pendapat apakah siksa duniawi berupa pencambukan delapan puluh kali, diterapkan atas mereka yang terlibat itu atau tidak. Namun demikian, walaupun mereka tidak terkena sanksi pencambukan, kecaman ayat-ayat ini serta pandangan negative yang tertuju pada mereka setelah turunnya ayat-ayat ini, sungguh telah merupakan siksaan batin yang tidak kecil.
Do sisi lain, penegasan ayat ini bahwa yang paling banyak terlibat dalam isu itu akan tersiksa yakni di akhirat, antara lain dapat ditemukan indikatornya yang sangat jelas pad diri ‘Abdulah Ibn Ubayy Ibn Salul, yang akhirnya mati sebagai munafik terbesar, bahkan Alah SWt menilainya kafir dan melarang Nabi Muhammad saw mendoakannya ( baca QS. At-Taubah [9]: 84 )
Ketika tersebarnya isu itu, Nabi saw gundah dan bimbang. Beliau mencari informasi dari banyak pihak, antara lain isteri beliau yang selama ini “bersaing” dengan ‘Aisyah, Zainab binti jahsy. Yang ini walau sebagi “madu” sama sekali tidak mendeskreditkan ‘Aisyah. “Usamah juga menjawab dengan nada yang sama. Tetapi Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib yang merupakan kemenakan Rasul iba melihat beliau, sehingga menjawab: “Wahai Rasul, Alah tidak mempersempit wanita untukmu. Banyak wanita selainnya. Jika engklau bertanya pada jariyah/pembantunya yakni Burairah, tentulah ia akan menjawab yang sebenarnya.” Jawaban Sayyidina Ali ra ini melukai ‘Aisyah ra yang agaknya berbekas sehingga pada sikapnya terhadap pengangkatan Sayyidina Ali sebagai khalifah. Betapapun sang jariyah ketika ditanya Nabi saw, menjawab: “Demi Allah yang mengutusmu dengan haq, kalau aku melihat sesuatu yang aku menutup mata karenanya, maka itu hanyalah bahwa ‘Aisyah adalah seorang wanita yang masih muda usia, dia tertidur di depan gandum keluarganya sehingga burung-burung datang memakannya.
Kegelisahan Nabi saw baru berakhir denagn turunnya ayat-ayat kelompok ini yang menampik isu negative tersebut. Dalam satu riwayat dinyatakan bahwa masa antara tersebarnya isu itu sampai dengan turunnya ayat-ayat ini adalah sekitar sebulan, dan pada masa itulah Nabi saw sangat gelisah. Agaknya hati kecil Nabi saw percaya kepada ‘Aisyah ra, hati kecil beliau tidak mungkin menbenarkan isu itu, tetapi tidak ada bukti yang dapat beliau kemukakan untuk menampiknya, apalagi indicator yang ditonjolkan oleh penyebar isu dapat mendukung kebenarannya. Dari sini kita dapat berkata seandainya al-Quran ciptaan Nabi Muhammad saw, tentu beliau tidak perlu menanti sedemikian lama. Bukankah beliau dapat dengan segera menghapus isu itu dengan memperatasnamakan wahyu, dan bila itu terjadi, tidak seorang muslim pun meragukannya. Namun karena wahyu berada di luar kemampuan beliau, maka dengan terpaksa Nabi agung itu, hidup dalam kegelisahan sekian lama.

Ayat (12)
“Mengapa di waktu kamu mendengarnya orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka dan berkata : “ ini adalah suatu berita bohong yang nyata.”

Ketika isu itu merebak, ada diantara kaum muslimin yang terdiam, tidak membenarkan dan tidak pula membantah. Ada juga yang membicarakannya sambil bertanya-tanya tentang kebenarannya, atau sambil menampakkan keheranannya, dan ada lagi yna sejak semula tidak mempercayainya dan menyatakan kepercayaannya tentang kesucian ‘Aisyah ra.
Nah, ayat ini mengecam mereka yang diam seakan-akan membenarkan apalagi yang membicarakan sambil bertanya-tanya tentang kebenaran isu itu. Ayat ini menyatakan sambil menganjurkan mereka mengambil langkah positif bahwa: Mengapa di waktu kamu mendengarnya yakni berita bohong itu, kamu selaku orang-orang mikminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap saudara-saudara mereka yang dicemarkan namanya, padahal yang dicemarkan namanya itu adalah bagian dari diri mereka sendiri, bahkan menyangkut Nabi mereka dan keluarga beliau, dan mengapa juga mereka tidak berkata: “ini adalah suatu berita bohong yang nyata karena kami mengenal mereka sebagai orang-orang mukmin apalagi mereka adalah istri Nabi bersama sahabat terpercaya beliau.”
Kecaman ayat di atas amat terasa dengan penyebutan kedudukan mereka sebagai orang mukmin pria dan wanita, padahal ayat ini dapat saja bahkan “sewajarnya” menggunakan kata kamu sebagai kata ganti orang-orang mikminin dan mukminat. Itu semua mengisyaratkan bahwa konsekuensi keimanan adalah pembelaan terhadap kaum beriman, palingt tidak pembek\laan pasif dengan berkata: isu itu sangat diragukan kebenarannya bahkan dia adalah kebohongan karena ia ditujukan kepada orang-orang mukmin.
Memang seperti ucap Sayidina Ali,”Bila kebaikan meliputi suatu masa bserta orang-orang di dalamnya, lalu seorang berburuk sangka terhadap orang lain yang belum pernah melakukan cela, maka sesungguhnya ia telah menzaliminya. Tetapi apabila kejahatan telah meliputi suattu masa beserta banyak pula yang berlaku zalim, lalu seseorang berbaik sangka terhadap orang 6ang belum dikenalnya, maka ia sangat mudah tertipu.” Ketersebaran isu itu adalah dalam kelompok orang-orang mukmin serta terhadap orang-orang yang selama ini sangat terpercaya, maka sungguh wajar ayat ini mengecam mereka. Di sisi lain, seorang mukmin mestinya sangat berhati-hati dalam menerima dan membedakan isu, apalagi jika penyebarnya seorang fasiq (bac QS> al-Hujurat [49]: 6). Mereka seharusnya memperhatikan indicator-indikator peristiwa. Dalam konteks isu ini, mereka misalnya harus dapat memperhatikan bahwa kedatangan ‘Aisyah ra bersama Shafwan justru terjadi di siang bolong dan di tengah kerumunan pasukan. Seandainya mereka melakukan sesuatu yang buruk pastilah mereka tidak akan datang bersama. Dari sini sungguh sangat wajar dan pada tempatnya, jika ayat ini menuntut kaum beriman menyatakan bahwa hadza ifkum mubin/ ini adalah berita bohong yang nyata.
Ayat ini menekankan bahwa suatu berita yang disebarkan oleh seorang padahal ia tidak mengetahui asal usul berita itu, sebagaimana halnya tuntutan tanpa bukati yang mendukungnya, dinilai sama dengan kebohongan yang nyata, walaupun kenyataan berita tersebut benar. Ini disebabkan karena sesuatu yang di nilai oleh agama besar, selama apa yang disampaikan itu sesuai engan keyakinan si pembicara, walau informasinya tidak sesuai dengan kenyataan. Jika anda menduga si A sakit, kemudian anda memberitakannya, maka anda dinilai berucap yang benar walau dugaan anda itu tidak sesuai dengan kenyataan. Sebaliknya jika anda mengetahui bahwa dia sakit, kemudian anda berkata bahwa dia sehat, maka anda dinilai berbohong, walau dalam kenyataan dia memang sehat. Ini karena Alah menilai niat dan motivasi pembicara, bukan kenyataan yang tidak diketahuinya. Karena itu tidaklah wajar seseorang berbicara membenarkan atau membantah apa yang diketahuinya, karena bila dia mengambil sikap yang membenarkan atau mendukung ia dinilai berbohong dalam sikapnya itu. Allah berfirman:
Artinya : “Dan janganlah engkau mengikuti apa yang engkau tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya” (QS. Al-Isra [17]: 36)

Ayat (13-14)
“Mengapa mereka tidak mendatangkan empat orang saksi? Oleh klarena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah di sisi Allah, merekalah para pembohong. Sekiranya tidak ada karunia Allah atas kamu dan rahmat-Nya di dunia dan akhirat niscaya kamu pasti ditimpa – akibat kecerobohan kamu yang demikian luas – oleh azab yang besar.”

Setelah mengecam kaum mukminin yang tidak mengambil sikap yang tepat, ayat ini beralih kepada para penyebar isu yang menuduh itu, tanpa mengarahkan secara langsung pembicaran kepada mereka, guna mengisyaratkan murka Allah. Ayat di atas menyatakan: mengapa mereka yang menuduh itu- bila memang mereka benar dalam tuduhannya – tidak mendatangkan empat orang saksi yang menyaksikan kebenaran tuduhan mereka? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah di sisi Allah yakni dalam ketetapan hukum-Nya, dan secara khusus pada kasus ini merekalah bukan selain mereka yang merupakan para pembohong yang mantap kebohongannya. Sekiranya tidak ada karunia Allah atas kamu semua antara lain dengan menjelaskan tuntunan agama-Nya dan demikian juga seandainya tidak ada rahmat-Nya yang melimpah di dunia dengan jalan menerima taubat kamu dan di akhirat dengan memberi pemanfaatan bagi yang dikehendaki-Nya niscaya pasti kamu ditimpa – akibat kecerobohan kamu yang demikian luas dalam pembicaraan negatif tentang berita bohong itu – ditimpa oleh azab yang besar.
Kata afadhtum terambil dari kata ifadha yaitu keluasan dalam sesuatu, serta tampil tidak hati-hati dan tan tanpa perhitungan . kata kerjanya adalah fadha yang berarti melimpah. Jika anda menuang air terlalu banyak melebihi kapasitas wadah tempat anda menuang, pastilah air itu melimpah keluar. Ayat ini menilai kaum mukminin telah melampaui batas kewajaran berkaitan denagn isu negatif itu. Pelampauan dimaksud bisa secara hakiki, yakni mereka yang benar-benar ikut membicarakan dan mempertanyakannya, atau secara majazi karena diam, tidak ikut menyatakan keraguan tentang hal tersebut. Kata yang digunakan ayat ini, di sini, tidak menyebut objeknya. Ini untuk mengisyaratkan betapa buruk pembicaraan itu, sehingga tidak wajar untuk diucapkan.

Ayat (15-18)
“ ketika kamu menerimanya dari lidah ke lidah dan kamu katakan dari mulut ke mulut kamu, apa yang tidak ada bagi kamu tentangnya sedikit pengetahuan pun, dan kamu menganggapnya suatu yang remeh, padahal pada sisi Allah adalah besar. Dan mengapa kamu saat mendengarnya tidak berkata : “ sekali-kali tidak pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha Suci Engkau, ini adlah dusta yang besar.” Allah memperingatkan kamu karena tidak suka kamu kembali memperbuat serupa dengannya selam-lamanya; jika kamu orang-orang mukmin dan Allah menerangkan kepada kamu ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mendengar.”

Ayat-ayat di atas merupakan lanjutan kecaman ayat-ayat yang lalu. Di sini Allah menggambarkan situasi terjadinya rumor itu, yakni ketika itu kamu menyebarkan berita bohong itu dari mulut ke mulut, atau melalui ayat ini Allah menggambarkan jatuhnya siksa yang diancam oleh ayatlalu. Apapun hubungannya, yang jelas Allah berfirman: ketika kamu menerimanya dan menyebarluaskan isu itu dengan sungguh-sungguh dari lidah ke lidah dan kamu katakan secara aktif oleh sebagian kamu dan sebagian yang lain pasif dengan jalan bertanya untuk ingin tahu bukan untuk membantah, kamu katakan dengan mulut-mulut kamu sendiri bukan dengan isyarat, apa yang tidak ada bagi kamu terutama tentangnya yakni tentang duduk persoalan menyangkut isu itu sedikit pengetahuan pun, dan kamu menganggapnya yakni pembicaraan kamu itu suatu yang remeh tanpa dosa dan celaan atau tanpa dibalas denagn keras. Padahal dia pada sisi Allah adalah dosa yang besar serta kedurhakaan yang sangat buruk. Dan mengapa kamu, yakni semestinya kamu saat mendengarnya yakni begitu mendengar berita bohong itu tidak berkata dengan tegas dan langsung ketika itu juga bahwa: “ sekali-kali tidak pantas bagi kita memperkatakan yang seperti ini terhadap sesama manusia, apalagi muslim, lebih-lebih terhadap Ummul Mukminin isteri Nabi Muhammad saw”. Ucapan yang mestinya kamu ucapkan sambil menunjukan rasa keheranan dan ketidaklogisan adalah: “Maha Suci Engkau wahai Tuhan kami, isu ini adalah dusta yang besar.”
Demikian Allah memperingatkan yakni menyentuh hati kamu dengan nasihat karena tidak suka kamu kembali memperbuat kesalahan dan kedurhakaan serupa dengannya untuk selama-lamanya; jika kamu orang-orang mukmin yang mantap imannya maka tentu kamu tidak akan mengulanginya karena keimanan bertentangan dengan sikap tersebut, dan disamping peringatan dan nasihat itu Allah juga menerangkan kepada kamu ayat-ayat-Nya serta menunjukan kebenaran tuntunan dan hukum-hkum-Nya. Allah Maha Kuasa dan Allah Maha Mengetahui, karena itu ikuti tuntunan-Nya, lagi. Dia adalah Maha Bijaksan dalam ketetapan-ketetapan-Nya dan karena itu terima dan laksanakanlah dengan tekun.
Kata ma yakunu biasa diterjemahkan dengan tidak pantas atau tidak wajar. Namun terjemahan tersebut belum mencerminkan dengan tepat pesan kata itu, yang pada hakikatnya bermaksud menyatakan bahwa hal yang dinafikan ayat ini tidak dapat wujud dalam kenyataan sekarang atau masa datang – walau seandainya seseorang menghendaki wujudnya. Dengan demikian, maknanya lebih dalam daripada tidak pantas atau tidak wajar. Karena kedua kata terakhir ini, masih membuka kemungkinan bagi wujud dan terjadinya apa yang tidak pantas itu, tetapi ia hanya tidak wujud karena alasan moral. Alasan ini, bisa saja diabaikan oleh orang lain sehingga akhirnya ia wujud juga dalam kenyataan. Ini tentu berbeda bila sejak semula anda memahami kata ma kana atau ma yakunu dengan tidak dapat wujud dalam kenyataan.
Kata alsinatikum adalah bentuk jamak dari kata lisan yang berarti lidah. Ia dapat diartikan secara hakiki dalam hal ini alat yang berada di mulut yang digunakan untuk menjilat, mengecap dan berkata-kata, dan dapat juga dalam arti mujazi antara lain bahasa. Yang dimaksud di sini adalah pengertian hakiki. Ia dikemukakan di sini guna menggambarkan keburukan ucapan-ucapan yang mereka sendiri ucapkan dengan lidah yang merupakan organ tubuh mereka dan dengan bahasa yang jelas. Penggunaan bahasa tersebut agaknya bertujuan mengesankan bahwa ucapan tersebut adlah sekadar kata-kata yang tidak memilikin substansi di alam nyata, lagi tidak dapat diterima oleh kalbu, karena dia tidak berdasar pengetahuan dan penelitian tentang kebenarannya. Sedang penyebutan kata mulut di samping untuk mengukuhkan makna kata lidah, sekaligus sebagai pengantar untuk menegaskan pernyataan sesudahnya yakni: tidak ada lagi kamu tentangnya yakni tentang duduk persoalan menyangkut isu itu sedikit pengetahuan pun. Didahulukannya kata tentangnya pada penggalan ayat ini, untuk menggarisbawahi bahwa seandainya dalam hal lain mereka memiliki pengetahuan, tetapi dalam hal isu itu sedikit pengetahuan pun mereka tidak miliki.
Didahulukannya kata idz sami’tumuhul/ saat kamu mendengarnya atas kata qultum/kamu berkata untuk mengisyaratkan besarnya dampak buruk peristiwa serta apa yang mereka dengarkan itu, sehingga seharusnya begitu mereka mendengarnya saat itu pula mereka harus pula membantahnya. Demikian al-Biqa’i
Kata buhtan adlah kebohongan yang sangat besar. Kata ini terambil dari kata buhita yang antara lain berarti tercengang dan bingung tak mengetahui apa yang harus dilakukan. Kebohongan besar bisa menjadikan seseorang tak habis pikir bagaiman hal tersebut bisa diucapkan sehingga tercengang dan bingung. Penyebarluasan isu itu, dinilai sebagai buhtan karena ia adalah ucapan yang disengaja dan tanpa alasan serta bukti, dan juga karena ia berkaitan denagn kehormatan manusia bahkan rumah tangga Rasul saw. yang merupakan manusia agung pilihan Allah SWT.
Kata subhana digunakan untuk menyucikan Allah dari segala sifat kekurangan. Ia diucapkan juga saat seseorang menyadari dan takjub akan kebesaran dan kehebatan ciptaap Allah. Biasa juga ia diucapkan saat ada sesuatu yang mengherankan, seperti ucapan Nabi Isa as ketika Allah “bertanya” apakah dia yang menyuruh manusia menyembah dirinya dan menyembah ibunya(baca QS. al-Maidah [5]: 116), atau ucapan serupa yang disebut pada awal surah al-Isra yang berbicara tentang Isra Nabi Muhammad saw. Bahkan dia diucapkan untuk sesuatu yang mengherankan walau tidak dengan tujuan mensucikan Allah, seperti pada ayat ini. Betapa tidak mengherankan, isteri seorang Nabi yang agung dan rumah tangganya yang suci, dinodai oleh isu tanpa dasar sedikit pun.

Ayat (19)

“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah Maha Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Pada ayat ini, Allah SWT menerangkan bahwa orang-orang yang senang menyiarkan perbuatan keji dan memalukan seperti perbuatan zina di kalangan orang-orang mukmin muhsan baik laki-laki maupun perempuan, mereka akan mendapat hukuman had di dunia ini, juga kutukan dun cercaan dari manusia dan di akhirat nanti mereka akan dimasukkan dan diazab di dalam neraka, sejahat-jahat tempat tinggal. Camkanlah sabda Nabi saw:

Orang Islam yang sebenarnya, ialah orang yang selamat sesamanya orang Islam dari perbuatan jahat lidah dan tangannya, dan orang yang berhijrah ialah orang yang meninggalkan larangan Allah. (H.R. Bukhari, Daud dan Nasai)

Dan Sabdanya: Tidaklah seorang hamba mukmin, menutupi cacat seorang hamba mukmin kecuali ditutupi juga cacatnya oleh Allah SWT di hari akhirat. Dan barangsiapa menggagalkan kejatuhan seorang muslim, akan digagalkan pula kejahatannya oleh Allah SWT, di hari akhirat nanti. (H.R. Ahmad bin Hanbal)

Allah SWT Maha Mengetahui hakikat dan rahasia sesuatu hal yang manusia tidak mengetahuinya. Oleh karena itu, kembalikanlah segala sesuatunya kepada Allah SWT dan janganlah kita suka memperkatakan sesuatu yang kita tidak mengetahui sedikitpun seluk beluknya, terutama hal-hal yang menyangkut diri atau keluarga Rasulullah saw, karena yang demikian itu akan membawa kepada kebinasaan.

Dan sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar).(QS. 24:20)

Ayat (20)

Dan sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan Rahmat-Nya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar).

 Pada ayat ini, Allah SWT menerangkan bahwa kalau bukan karena karunia dan rahmat-Nya kepada mereka penyebar berita bohong, yang masih memberi kepada mereka hidup dengan segala kelengkapannya. Dan sekiranya Dia tidak Maha Penyantun dan Maha Penyayang, tentulah mereka itu sudah hancur binasa. Tetapi Dia senantiasa berbuat kepada hamba-Nya mana yang mendatangkan muslihat kepada mereka. sekalipun mereka itu telah melakukan pelanggaran-pelanggaran dan dosa serta maksiat kepada-Nya.

Wahai kaum muslimin dan muslimat sekiranya kita dapat mengambil pelajaran dari bahaya fitnah. Janganlah kita menjadi orang yang suka menyebar fitnah, dan bersabarlah seperti Ibunda ‘Aisyah ra saat kita ditimpa fitnah. Semoga kisah ini bisa kita petik pelajaran agar menambah keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah swt. Hanya kepada-Nya kita berserah diri.

Assalamualaikum Wr.Wb