kasus ka'bah2

SERI II : Ismail as Tidak Pernah ke Arab ? Misteri Paran.

I. Nabi ismail as di Mekah.
Sebelum kita membahasnya lebih jauh mari kita membaca kisah Islam di bawah ini :
1. kisah mata air zam-zam menyisaratkan kebesaran Allah swt. Dan atas kehendak Allah juga air zam-zam tidak pernah habis walaupun diambil oleh jamaah haji dan umrah serta penduduk setempat sepanjang hari sampai hari ini. Padahal Makkah adalah daerah yang sangat jarang curah hujannya, seringkali dalam setahun hanya 2x, tandus, gersang, berbukit batu dan berpadang pasir. Mata air zam-zam adalah salah satu bukti dan saksi bisu akan perjuangan Hajar dan Ismail as memulai babak baru kehidupannya setelah diusir oleh sarah.
2. Ka’bah sangat dijaga oleh Allah. Bahkan dari pasukan bergajah Abrahah yang beragama Nasrani saat hendak menghancurkannya. Ka’bah adalah saksi bisu bahwa ada seorang manusia bernama Ibrahim as dan anaknya Ismail as pernah meninggikan dasar-dasar Baitullah sesuai QS Al Baqaraah ayat 127.
3. Maqam Ibrahim adalah bekas telapak kaki Nabi Ibrahim as saat membangun Ka’bah. Terukir di atas batu. Kedua telapak kaki Ibrahim as berkedalaman 9-10cm, panjang 27 cm, lebar 14cm. Batu prasasti purba itu dijaga turun temurun oleh keturunan Nabi Ismail as sampai kini. Tetapi hakikatnya bukti fisik itu sangat dijaga Allah untuk menunjukkan kepada kita umat Islam bahwa di situ pernah berdiri nabi Ibrahim as. Hal ini diabadikan dalam Al Quran :
“Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata (yaitu) Maqam Ibrahim,….. (QS Ali Imran ayat 97).

Maka genablah janji Allah dalam Kitab Kejadian 21:13
“Tetapi keturunan dari hambamu itu juga akan Kubuat menjadi suatu bangsa, karena iapun anakmu.”
Allah menepati janji-Nya, yaitu akan membuat keturunan Ismael menjadi “Bangsa yang besar”. Karena dari keturunan Ismail itulah terkembang Islam. Melalui keturunan Ismail as yaitu Nabi Muhammad SAW telah berkibar Panji Islam pada bangsa yang besar di dunia melebihi keturunan Abraham yang lain yaitu Ishak.

Kejadian 21 :
(17) Allah mendengar suara anak itu, lalu Malaikat Allah berseru dari langit kepada Hagar, kata-Nya kepadanya: “Apakah yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut, sebab Allah telah mendengar suara anak itu dari tempat ia terbaring.
(18) Bangunlah, angkatlah anak itu, dan bimbinglah dia, sebab Aku akan membuat dia menjadi bangsa yang besar.”
(sumber : Cahaya Islam, Di balik Kitab Perjanjian-Nya hal.52)

Di satu sisi beberapa umat kristen mengejek kita sebagai penganut agama turunan si “keledai liar”, artinya anda mengakui Muhammad saw turunan Nabi Ismail as. Namun pada waktu yang sama anda pun mengatakan bahwa Muhammad saw bukan turunan Ismail as. Harusnya kami yang bertanya pada anda, mengapa anda mengemukakan 2 hal bertolak belakang dalam 1 sesi debat lintas agama ? Berarti anda hanya asbun. dan hanya berniat menistakan.
Dalam artikel di atas kristen menolak keyakinan umat Islam bahwa Ismail as pernah ke arab. mereka mengutip ayat bible kitab kejadian 21:21 :
Maka tinggallah ia di padang gurun Paran, dan ibunya mengambil seorang isteri baginya dari tanah Mesir.
Apakah hal ini memastikan bahwa Al Quran salah ? Oh tunggu dulu, mari kita mengkaji perikop Abraham mengusir Hagar dan Ismael dalam bible. Apakah alur kisah Ismael dan Hagar sudah benar ?

Abraham mengusir Hagar dan Ismael
(Oleh : H Surya Ibnu Nawawi)
Kitab kejadian 21 :
(8) Bertambah besarlah anak itu dan ia disapih, lalu Abraham mengadakan perjamuan besar pada hari Ishak disapih itu.
(9) Pada waktu itu Sara melihat, bahwa anak yang dilahirkan Hagar, perempuan Mesir itu bagi Abraham, sedang main dengan Ishak, anaknya sendiri.
(10) Berkatalah Sara kepada Abraham: “Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak.”

(11) Hal ini sangat menyebalkan Abraham oleh karena anaknya itu.
(12) Tetapi Allah berfirman kepada Abraham: “Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak.
(13) Tetapi keturunan dari hambamu itu juga akan Kubuat menjadi suatu bangsa, karena iapun anakmu.”
(14) Keesokan harinya pagi-pagi Abraham mengambil roti serta sekirbat air dan memberikannya kepada Hagar. Ia meletakkan itu beserta anaknya di atas bahu Hagar, kemudian disuruhnyalah perempuan itu pergi. Maka pergilah Hagar dan mengembara di padang gurun Bersyeba.
(15) Ketika air yang dikirbat itu habis, dibuangnyalah anak itu ke bawah semak-semak,
(16) dan ia duduk agak jauh, kira-kira sepemanah jauhnya, sebab katanya: “Tidak tahan aku melihat anak itu mati.” Sedang ia duduk di situ, menangislah ia dengan suara nyaring.
(17) Allah mendengar suara anak itu, lalu Malaikat Allah berseru dari langit kepada Hagar, kata-Nya kepadanya: “Apakah yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut, sebab Allah telah mendengar suara anak itu dari tempat ia terbaring.
(18) Bangunlah, angkatlah anak itu, dan bimbinglah dia, sebab Aku akan membuat dia menjadi bangsa yang besar.”
(19) Lalu Allah membuka mata Hagar, sehingga ia melihat sebuah sumur; ia pergi mengisi kirbatnya dengan air, kemudian diberinya anak itu minum.
(20) Allah menyertai anak itu, sehingga ia bertambah besar; ia menetap di padang gurun dan menjadi seorang pemanah.
(21) Maka tinggallah ia di padang gurun Paran, dan ibunya mengambil seorang isteri baginya dari tanah Mesir.

mari kita kupas sampai tuntas :
Kejadian :
21:10 Berkatalah Sara kepada Abraham: “Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak. “
(Dalam ayat ini terlihat Sarah lah yang membenci dan meminta kepada Abraham untuk mengusir Hagar dan Ismael)
21:12 Tetapi Allah berfirman kepada Abraham: “Janganlah sebal hatimu…
(Dalam ayat ini menggambarkan rasa keberatan dan marah dalam hati Abraham akan kelakuan Sarah, namun Allah menegur Abraham agar bersabar)
21:12 Tetapi Allah berfirman kepada Abraham: “Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak.
(disini jelas harusnya perikopnya BUKAN Abraham mengusir Hagar dan Ismael. tapi Sara mengusir Hagar dan Ismael. Al Kitab serong karena ada rekayasa agar terkesan Abraham membenci Ismael).

Untuk mengetahui Umur Ismael saat itu mari kita kembali kejadian 21:8 Bertambah besarlah anak itu dan ia disapih, lalu Abraham mengadakan perjamuan besar pada hari Ishak disapih itu. Umumnya anak disapih adalah umur 2 thn. Ishak lahir usia Abraham 100 th. Ismael lahir usia Abraham 86 th. Berarti umur Ismael saat itu adalah 100-86+2= 16 tahun.
setelah kita mengetahui umur Ismail, Mari kita lanjutkan alur kisah.

kitab kejadian :
21:14 Keesokan harinya pagi-pagi Abraham mengambil roti serta sekirbat air dan memberikannya kepada Hagar. Ia meletakkan itu beserta anaknya di atas bahu Hagar, kemudian disuruhnyalah perempuan itu pergi. Maka pergilah Hagar dan mengembara di padang gurun Bersyeba.
[Ayat ini TIDAK LOGIS :
1. ABARAHAM yg sekitar berusia 103 th (2th+kehamilan) bisa mengangkat Ismael yg usia 16 th. Dan menaruhnya dibahu Hagar.
2. Juga tidak logis HAGAR perempuan yg sudah tua akan bisa menggendong (diatas bahunya) Ismael yg berusia 16 thn.]

21:15 Ketika air yang dikirbat itu habis, dibuangnyalah anak itu ke bawah semak-semak,
(AYAT ini TIDAK LOGIS Isamel yang berusia 16 th dibuang ? di buang…oleh ibunya ? Hahaha kalau Balita sih masuk akal).

21:16 dan ia duduk agak jauh, kira-kira sepemanah jauhnya, sebab katanya: “Tidak tahan aku melihat anak itu mati.” Sedang ia duduk di situ, menangislah ia dengan suara nyaring.
(Tidak logis lagi kalau Hagar yang bicara mati, kayaknya kalau karena kehausan, Ismael yang berusia 16 thn lebih kuat dari ibunya yang sudah renta. Pemuda 16 tahun nangis dengan suara nyaring ?, kalau bayi sih iya…Oa Oa Oa…!. tapi ini anak 16 thn loh. Pemuda 16 tahun sih putus cinta juga nagisnya gak ada suaranya. Hehehehe makin kacau aja kisah bible).
21:18 Bangunlah, angkatlah anak itu, dan bimbinglah dia, sebab Aku akan membuat dia menjadi bangsa yang besar.”
(Ayat ini juga tidak logis, anak yang usia 16 thn, diangkat oleh ibunya yang renta ? bagaimana cara mengangkatnya ? wkw wkw wkw kalau ibunya yg diangkat oleh Pemuda Ismael yang 16 thn itu baru logis)

KESIMPULAN : Kisah yang ada dalam Al Kitab bukan dari Allah karena banyaknya kontroversi dan ayat yang tidak logis. Alias asbun. Hingga tidak bisa dijadikan DASAR KEBENARAN. Sangatlah tidak pantas anda menyanggah Al Quran dengan kisah kontroversi begini.
Mari kita bandingkan dengan kisah versi Islam :
KITAB BUKHARI HADIST NO – 3114
Telah bercerita kepada kami ‘Abdullah bin Muhammad telah bercerita kepada kami Abu ‘Amir ‘Abdul Malik bin ‘Amru berkata telah bercerita kepadaku Ibrahim bin Nafi’ dari Katsir bin Katsir dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma berkata; “Ketika Ibrahim keluar berkelana bersama Isma’il dan ibu Isma’il, mereka membawa geriba (kantung empat air) yang berisi air, ibu Isma’il minum dari persediaan air dalam geriba tersebut sehingga dia dapat menyusui bayinya. Ketika tiba di Makkah, Ibrahim menempatkan keduanya di bawah sebuah gubuk. Tatkala Ibrahim hendak kembali kepada keluarganya, ibu Isma’il mengikutinya di belakang hingga ketika sampai di dataran yang agak tinggi/-gundukan, ibu Isma’il memanggilnya dari belakang; “Wahai Ibrahim, kepada siapa engkau meninggalkan kami?”. Ibrahim menjawab; “Kepada Allah”. Hajar berkata; “Kalau begitu, Aku telah ridla kepada Allah”. Perawi berkata; “Lalu Hajar kembali (ke tempat semula dia dan minum geriba kunonya dan bisa menyusui bayinya hingga ketika air persediaan habis dia berkata; “Sebaiknya aku pergi dan melihat-lihat barangkali ada orang”. Perawi berkata; “Maka dia pergi dan naik ke atas bukit Shafaa lalu melihat-lihat apakah ada orang namun dia tidak merasakan ada seorangpun. Ketika sampai di lembah dia lari-lari kecil dan mendatangi Marwa, ia lakukan yang demikian berkali-kali. Kemudian dia berkata; “Sebaiknya aku pergi dan melihatnya, yang dimaksudnya adalah bayinya. Maka dia pergi mendatangi bayinya yang ternyata keadaannya seperti ketika ditinggalkan seolah-olah menghisap napas-napas kematian sehingga hati Hajar tidak tenang. Dia berkata; “Sebaiknya aku pergi dan melihat-lihat barangkali ada orang”. Maka dia pergi untuk mendaki bukit Shafaa lalu melihat-lihat namun tidak ada seorangpun yang ditemuinya hingga ketika dia telah melakukan upaya itu sebanyak tujuh kali (antara bukir Shafaa dan Marwah) dia berkata; “Sebaiknya aku pergi dan melihat apa yang terjadi dengan bayiku”, ternyata dia mendengar suara, maka dia berkata; “Tolonglah (aku) jika memang kamu baik”. Ternyata (suara itu) adalah malaikat Jibril ‘Alaihissalam. Perawi berkata; Lalu Jibril berbuat dengan tumitnya begini. Dia mengais-ngais tanah dengan tumitnya”. Perawi berkata; “Maka memancarlah air dan ibu Ism’ail menjadi terperanjat dan segera menampungnya”. Perawi berkata; Berkata Abu Al Qasim shallallahu ‘alaihi wasallam: “Seandainya Hajar membiarkannya pasti air akan mengalir”. Perawi berkata; “Maka Hajar minum dari air (zamzam) itu sehingga dapat menyusui bayinya”. Kemudian serombongan orang dari suku Jurhum lewat di dasar lembah dan mereka melihat ada seekor burung, seakan mereka tidak percaya, Mereka berkata: “Tidak akan ada burung melainkan pasti karena ada air”. Akhirnya mereka mengutus seorang utusan mereka untuk melihatnya yang ternyata mereka memang berada di kawasan yang ada air. Utusan itu kemudian kembali kepada mereka dan mengabarkan (apa yang dilihatnya). Kemudian mereka menemui Hajar dan berkata; “Wahai Ibu Isma’il, apakah kamu mengizinkan kami untuk tinggal bersama kamu atau kami hidup bertetangga bersama kamu?”. Kemudian anaknya (Isma’il) tumbuh menjadi seorang pemuda lalu menikah dengan seorang wanita”. Perawi berkata; “Kemudian timbul keinginan pada diri Ibrahim maka dia berkata kepada keluarganya; “Aku akan pergi melihat keluargaku yang aku tinggalkan”. Perawi berkata; “Maka Ibrahim datang dan memberi salam seraya berkata; “Kemana Isma’il?”. Istri isma’il berkata; “Pergi berburu”. Ibrahim berkata; “Katakanlah kepadanya jika sudah datang supaya dia mengubah daun pintu rumahnya”. Ketika Isma’il datang istrinya menceritakan kedatangan Ibrahim. Maka Isma’il berkata; “Kamulah yang dimaksud dengan daun pintu itu, maka kembalilah kamu kepada keluargamu”.”Kemudian timbul lagi keinginan pada diri Ibrahim maka dia berkata kepada keluarganya; “Aku akan pergi melihat keluargaku yang aku tinggalkan”. Ketika tiba, Ibrahim bertanya; Kemana Isma’il”. Istrinya menjawab; “Dia pergi berburu. Apakah tidak sebaiknya anda singgah dulu dan makan minum bersama kami?”. Ibrahim bertanya; “Apa makanan dan minuman kalian?”. Istri Isma’il menjawab; “Makanan kami daging dan minuman kami air”. Lalu Ibrahim berdo’a; “Ya Allah, berkahilah mereka dalam daging dan air mereka”. Abu Al Qasim shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Daging dan air disini penuh dengan barakah karena barokah doa Ibrahim ‘Alaihissalam.”Kemud¬ian timbul lagi keinginan pada diri Ibrahim maka dia berkata kepada keluarganya; “Aku akan pergi melihat keluargaku yang aku tinggalkan”. Maka Ibrahim datang dan bertemu dengan Isma’il dari balik (sumur) zamzam sedang memperbaiki panahnya lalu berkata; “Wahai Isma’il, sesungguhnya Rabbmu telah memerintahkan aku agar membangun rumah”. Isma’il berkata; “Taatilah Rabbmu”. Ibrahim berkata lagi; “Sesungguhnya Dia telah memerintahkan aku agar kamu membantu aku dalam pembangunan rumah yang dimaksud”. Isma’il berkata; “Kalau begitu aku akan lakukan”, atau seperti yang dikatakannya. Perawi berkata; Maka keduanya mulai membangun, Ibrahim yang membangun sedangkan Isma’il membawa bebatuan, keduanya sambil membaca do’a; (“Rabb kami, terimalah (amal) dari kami sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui”. Keduanya terus saja membangun hingga mengelilingi Baitullah dan keduanya terus saja membaca do’a; (“Rabb kami, terimalah (amal) dari kami sesunggunya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui”). Perawi berkata; “Keduanya terus membangun hingga ketika bangunan sudah tinggi dan Ibrahim sebagai orangtua yang sudah renta agak kepayahan untuk mengangkat batu ke susunan tembok yang lebih tinggi, dia berdiri di atas batu sebagai tempat berdirinya (al-Maqam) sedangkan Ismail terus memberinya bebatuan sambil keduanya terus membaca do’a; (“Rabb kami, terimalah (amal) dari kami sesunggunya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui”) (QS. Albaqarah 128).
Simaklah :
sehingga dia dapat menyusui bayinya. >>> Ismail saat meninggalkan Sara waktu masih bayi. Dan kalau saja Taurat itu TIDAK ADA REKAYASA, maka esensy usia anak yang diangakat oleh Ibrahim dan ditaruh di bahu Hagar ibunya adalah anak usia bayi (Bukan 16th). Dan kalau saja Taurat itu TIDAK ADA REKAYASA, maka anak yang logis digendong dibahu ibunya adalah anak bayi (bukan 16 th). Dan kalau saja Taurat itu TIDAK ADA REKAYASA, anak yang kehausan lebih dulu dari ibunya adalah anak bayi (bukan anak 16th). Dan kalau saja Taurat itu TIDAK ADA REKAYASA, anak yg bisa dibuang oleh ibunya ke semak-semak adalah anak bayi (bukan anak 16th). Dan kalau saja Taurat itu TIDAK ADA REKAYASA, anak yang logis nagis dengan suara nyaring adalah anak bayi (bukan anak 16 th), dari semua itu maka Kisah dalam al kitab menjadi gugur.
Dari adanya Hadist dan rekayasa Al Kitab itu maka perkataan Nabi Ibrahim as dalam Al Qur’an inilah yang benar: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”, (Qur’an surah Ibrahim: 37).

II. Misteri PARAN (oleh : Ustadz Ardiansyah)

PARAN, adalah tempat tinggal Bani Ismael,dimana Nabi Isma’el dan ibunda,Hagar PBUH tinggal di sana,pasca pengusiran yang terjadi di palestina.
mengenai paran, kaum yahudi dan Nasrani percaya bahwa Paran itu ada di mesir, yaitu arah tenggara dari gunung sinai.
namun hal ini tidak bisa di terima secara fakta ilmiah,karna tidak ada satupun jejak membuktikan bahwa Nabi Ismael dan keturunan nya tinggal disana, melainkan jejak nya terdapat di utara saudi.

PARAN di dalam TaNaKh
EYL-PARAN

[ALP] Genesis 14:6 וְאֶת-הַחֹרִי בְּהַרְרָם שֵׂעִיר עַד אֵיל פָּארָן אֲשֶׁר עַל-הַמִּדְבָּר

WE-ET HA-CHORI BE-HARERAM SE’IR ‘AD EYL PARAN ASYER ‘AL HAMIDBAR

[Alkitab] Genesis 14:6 dan orang Hori di pegunungan mereka yang bernama Seir, sampai ke Eyl-Paran ASYER ‘AL HAMIDBAR (Adalah dengan gurun itu)

Bemidbar Paran (Gurun Paran)

[ALP] Genesis 21:21 וַיֵּשֶׁב בְּמִדְבַּר פָּארָן וַתִּקַּח-לוֹ אִמּוֹ אִשָּׁה מֵאֶרֶץ מִצְרָיִם

WAYYESYEV BEMIDBAR PARAN WATIQACH-LO IMMO ISYAH ME-ERETZ MITSRAYIM

[Alkitab] Genesis 21:21 Maka tinggallah ia di padang gurun Paran, dan ibunya mengambil seorang isteri baginya dari tanah Mesir.

Awan stop di gurun Paran

[ALP] Numbers 10:12וַיִּסְעוּ בְנֵי-יִשְׂרָאֵל לְמַסְעֵיהֶם מִמִּדְבַּר סִינָי וַיִּשְׁכֹּן הֶעָנָן בְּמִדְבַּר פָּארָן

WAYYIS’U BENEY-YISRAEL LE-MAS’EYHEM MI-MIDBAR SINAY WA-YISYKON HE-‘ANAN BEMIDBAR PARAN

[Alkitab] Numbers 10:12 Lalu berangkatlah orang Israel dari BEMIDBAR SINAI menurut aturan keberangkatan mereka, kemudian diamlah (YISYKON) awan itu di BEMIDBAR PARAN.

kemudian ringkasnya Bani Israel berkemah di gurun paran,lalu mengintai kanaan (Bilangan:12:16,13:3,26)

HAR PARAN (PEGUNUNGAN PARAN)

[ALP] Deuteronomy 33:2 וַיֹּאמַר יְהוָה מִסִּינַי בָּא וְזָרַח מִשֵּׂעִיר לָמוֹ הוֹפִיעַ מֵהַר פָּארָן וְאָתָה מֵרִבְבֹת קֹדֶשׁ מִימִינוֹ אשדת )אֵשׁ דָּת( לָמוֹ

WAYYOMER ADONAY MIS-SINAY BA WE-ZARACH MI-SE’IR LAMO HOFIY’A ME-HAR PARAN WE-ATAH ME-RIBBOT QODESY MI-YMINYNU A-SY-D-T (ESY DAT) LAMO

[Alkitab] Deuteronomy 33:2 Berkatalah ia: “YHWH datang dari Sinai dan terbit kepada mereka dari Seir; Ia tampak bersinar dari HAR PARAN dan datang dari tengah-tengah puluhan ribu orang yang kudus; di sebelah kanan-Nya tampak kepada mereka api yang menyala.

wafatnya Nabi Samuel PBUH, Nabi Daud PBUH bergegas pergi ke midbar Paran (1 samuel:25:1)

Hadad dan orang-orang edom ke mesir,
melalui midyan > gurun paran > mesir (1 Raj:11:18)

HAR PARAN

[ALP] Habakkuk 3:3 אֱלוֹהַּ מִתֵּימָן יָבוֹא וְקָדוֹשׁ מֵהַר-פָּארָן סֶלָה כִּסָּה שָׁמַיִם הוֹדוֹ וּתְהִלָּתוֹ מָלְאָה הָאָרֶץ

ELOHA MITEYMAN YAVO WE-QADOSY ME-HAR PARAN SELAH KISSAH SYAMAYIM HODO U-TEHILLATO MALAH HA-ARETS

[Alkitab] Habakkuk 3:3 ELOHA datang dari TEYMAN dan Qodesy dari HAR Paran. Sela. Keagungan-Nya menutupi segenap langit, dan bumipun penuh dengan pujian kepada-Nya.

Para Ahli Tafsir berbeda pendapat akan letak paran ini, namun dari ayat-ayat diatas kita bisa memahami ada dua tempat yang di identifikasi kan sebagai paran dengan sebutan “har paran” bermakna “pegunungan paran” dan “bamidbar Paran” bermakna “Gurun Paran”. Awalnya yang harus kita lihat adalah konteks, Bemidbar Paran yang di huni oleh Nabi Yisyma’el dan Ibunda Hagar PBUH. Apakah selamanya beliau berdiam disana ? bahwa pemukiman Nabi Ishma’el itu itu di utara arab saudi, sebenarnya ada perbedaan pendapat mengenai dimana letak asli gunung sinai, jika gunung sinai saja di perdebatkan apalagi dengan Pegunungan paran yang jelas berada di sebelah selatan sinai ?.

perhatikan lagi akan ayat ini

[ALP] Genesis 25:18 וַיִּשְׁכְּנוּ מֵחֲוִילָה עַד-שׁוּר אֲשֶׁר עַל-פְּנֵי מִצְרַיִם בֹּאֲכָה אַשּׁוּרָה עַל-פְּנֵי כָל-אֶחָיו נָפָל

WAYYISYKENU ME-CHAVILAH ‘AD-SYUR ‘AL-PENEY MITSRAYIM BOAKHAH ASYURAH ‘AL PENEY KAL ACHAYV NAFAL

[Alkitab] Genesis 25:18 Mereka (Benei Yisyma’el) itu SAKAN “MENDIAMI” daerah dari Hawila sampai Syur, yang letaknya di sebelah timur Mesir ke arah Asyur. Mereka menetap berhadapan dengan semua saudara mereka.

dimanakah itu hawilah ? hawilah merujuk ke :

dimana sungai Pison dan sumber emas berada (Beresyit:2:11)
Hawilah ,adalah Nama anak kush (Beresyit:10:7) dan Anak dari Yoktan putra Eber (Beresyit:10:29)

Di dalam buku Rav Menachem Ali, “Ishmael di dalam naskah Masorrah,Tafsir Rashii dan Qhirbet Qumran”. Disana dijelaskan “bahwa hawilah adalah Nama Kuno “jazirah Hijaz”. Jadi bisa di pastikan bahwa Tanah Hijaz inilah tanah milik Yisyma’el dan bercampur baur dengan anak-anak keturunan semitik yang lain dari jalur Yoktan bin ‘eber. Dimanakah lokasi har Paran ini? jikalau di mesir ada gurun paran, apakah disana juga ada gunung paran? dimanakah letak Har Paran itu ? ini membuktikan perbedaan antara bemidbar paran dan Har Paran.

JADI lokasi ini pun diperdebatkan oleh para Ahli arkeologi Kristen sendiri, sebab tidak ada bukti otentik bahwa Ismael dan hagar bermukim di sana, namun jikalau kita memahami BEMIDBAR PARAN DAN HAR PARAN itu di UTARA SAUDI maka itu yang di percaya oleh para arkeologi Muslim, mekkah adalah MASUK dari HAR PARAN bukan berarti paran itu sendiri…… TIDAK ADA FAKTA YANG MENGATAKAN ISMAIL as TIDAK PERNAH KE ARAB. semua itu hanya asumsi belaka.

jadi masihkah mempermasalahkan Paran di region Arabia utara ? Tidak sepantasnya anda menyanggah Al Quran hanya dari dasar asumsi belaka. BUKAN FAKTA !!!

III. Riwayat Makkah.

Ibrahim ‘alaihi shalatu wa salam keluar dari kampung halamannya di Syam menuju tanah Hijaz, menuju suatu lembah yang gersang, tidak memiliki tanaman, dan dipagari bukit-bukit berbatu. Di sinilah lahir sebagian dari keturunan Nabi Ibrahim, mengemban dakwah tauhid, dan kemudian tersebar ke seluruh penjuru dunia. Di kemudian hari negeri tersebut disebut Mekah.
Memang Mekah adalah daerah yang gersang tidak memiliki tumbuhan, cuaca yang terik dengan curah hujan yang rendah, namun daerah ini memiliki tempat tersendiri di hati umat Islam, wilayah ini dan penduduknya senantiasa dirindukan oleh hati-hati orang yang beriman. Yang demikian merupakan berkah dari doa Nabi Ibrahim yang Allah abadikan dalam firman-Nya,

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37)

Kapan Mekah Pertama Dihuni Manusia?

Tidak ada sumber yang benar-benar bisa dijadikan pijakan, kapan Mekah pertama kali dihuni atau siapa yang pertama kali memimpin di Mekah. Oleh karena itu, sejarawan berbeda pendapat dalam masalah ini. Ada yang mengatakan, penghuni pertama Mekah adalah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Alasannya, (1) Dalam doa Nabi Ibrahim di atas, beliau tidak menyebutkan balad (negeri), tetapi disebut denganwadi (lembah), artinya tempat tersebut sepi tak berpenghuni. (2) Tidak ada ayat-ayat atau hadis-hadis yang shahih menjelaskan atau mengisayaratkan tentang kisah Mekah sebelum kedatangan Nabi Ibrahim. (3) Tidak ada syariat mensucikan Ka’bah dan menjadikan Mekah sebagai tanah haram serta menyeru manusia untuk mendatanginya kecuali setelah Nabi Ibrahim meninggali tempat tersebut.

Pendapat yang lain menyatakan bahwa sejarah Mekah tidak hanya dimulai pada masa Nabi Ibrahim atau nabi dan rasul sebelum beliau, bahkan sejarah Mekah telah ada sejak zaman Nabi Adam ‘alaihissalam. Mereka yang berpendapat demikian berargumentasi dengan ayat Alquran:

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS. Ali Imran: 96)

وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لَا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا

Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku…” (QS. Al-Hajj: 26)

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.(QS. Al-Baqarah: 127)

Ayat pertama menjelaskan bahwa rumah pertama dibangun untuk manusia adalah rumah yang berada di Bakkah atau Mekah, sedangkan Nabi Ibrahim bukanlah manusia pertama otomatis rumah pertama tersebut bukan dibangun oleh beliau. Adapun kedua dan ketiga mengisyaratkan bahwa Nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimassalam bukanlah orang pertama yang membangun Ka’bah, keduanya hanya meninggikan bangunan tersebut.

Dengan demikian –menurut orang-orang yang memegang pendapat yang kedua-, Mekah sudah dimakmurkan sebelum Nabi Ibrahim memakmurkannya, bahkan ada yang mengatakan Mekah memiliki fase-fase yang berbeda di setiap zamannya. Kota tersebut pernah menjadi kota yang hijau ditumbuhi tanaman dan juga mengalami masa-masa kegersangan. Oleh karena itu, Mekah disebut ummul qura, ibunya negeri-negeri.

Kesimpulannya, kedua pendapat ini adalah buah dari analisis yang masing-masing memiliki argumentasi, bisa jadi yang pertama benar dan yang kedua salah, demikian juga sebaliknya. Keduanya memiliki kemungkinan benar.

Masa Nabi Ibrahim Menetap di Mekah
Nabi Ibrahim mengajak keluarganya menuju ke Mekah, lalu atas perintah Allah beliau meninggalkan istrinya, Hajar, bersama anaknya yang masih kecil bernama Ismail di lembah yang kering berbatu tersebut. Setelah beberapa tahun Nabi Ibrahim kembali ke Mekah. Beliau melihat lembah tersebut telah berubah; di sana sudah terdapat sumber air, dan ada masyarakat ikut tinggal di sana bersama istri dan anaknya, yakni kabilah Jurhum. Anaknya Ismail sudah beranjak tumbuh dan membaur bersama masyarakat. Mekah pun menjadi tempat orang-orang asing singgah dan cahaya agama muncul di sana.
Setelah itu, Nabi Ibrahim dan Ismail diperintahkan untuk membangun atau mengembalikan keadaan Bait al-Haram sebagaimana sedia kala. Ketika bangunan itu sempurna, Nabi Ibrahim diperintahkan menyeru manusia untuk berhaji ke Bait al-Haram. Dengan demikian semaraklah kota tersebut dan terkenal di kalangan masyarakat Arab.
Perintah Allah dan tujuan menetapkan keluarganya di Mekah telah Nabi Ibrahim tunaikan, beliau pun meninggalkan kota tersebut dengan mengamanatinya kepada anaknya Ismail.

Masa Antara Nabi Ismail dan Qushay (Quraisy)
1. Masa Nabi Ismail
Nabi Ismail ‘alaihissalam hidup selama 130 tahun. Dalam rentang waktu satu abad tersebut, beliau mengalami dua kali pernikahan. Istri pertama dari kabilah Qathura dan yang kedua dari Jurhum. Ayahnya, Nabi Ibrahim, pernah datang ke rumah Nabi Ismail di Hijaz akan tetapi mereka belum berjumpa pada saat itu, Nabi Ibrahim hanya berjumpa dengan istri dari anaknya ini. Mendengar banyak keluhan dari sang menantu, akhirnya Nabi Ibrahim memerintahkan putranya Ismail untuk menceraikan istrinya. Lalu menikahlah Nabi Ismail dengan wanita dari kabilah Jurhum.
Nabi Ismail dianugerahi 12 orang anak buah dari pernikahannya dengan wanita Jurhum. Anak-anak Nabi Ismail ditugasi untuk merawat Ka’bah, mengajarkan manasik haji, dan mendidik para jamaah haji dengan ajaran tauhid. Ada yang mengatakan bahwa anak-anaknya ini termasuk dari kalangan nabi namun bukan rasul.
Sepeninggal Nabi Ismail, penjagaan Baitullah al-Haram diamanatkan kepada putranya Nabit. Setelah itu para sejarawan berselisih pendapat apakah Nabit menguasai daerah ini hingga wafatnya atau ia serahkan kepada paman-pamannya dari kabilah Jurhum.

2. Jurhum Menguasai Mekah

3. Jurhum Diusir dan Khuza’ah Berkuasa

4. Qushay Mengambil Alih Mekah dari Khuza’ah

(sumber : http://www.kisahmuslim.com)

Apapun yang pendapat para ahli sejarah saat ini semua itu hanyalah teori dan pendapat masing-masing. Hal itu bukanlah fakta. Belum ada yang satupun bukti fakta yang mengatakan Ibrahim as dan Ismail as tidak pernah ke arab. Dan walaupun fitnah Kristen tersebuat benar bahwa dahulu belum ada kota Mekah, Namun daratan Arab sudah ada bukan ? Berarti bisa saja Nabi Nabi Ibrahim pernah ke sana. Jadi apa dasar anda mengatakan bahwa Al Quran salah  ? Tolong hadirkan bukti fakta !!! Karena umat muslim punya bukti fakta yaitu : Ka’bah, Air zam-zam, dan maqam Ibrahim(bekas pijakan Nabi Ibrahim) dll yang diabadikan dalam Al Quran. Anda punya bukti apa ?

Taha Hussein hanya salah satu ahli Bahasa dan penulis syair. Dia bukan ahli sejarah, dan bukan pula ahli tafsir. jadi tolong datangkan bukti anda, bukan teori dan hipotesa belaka. karena saya dapat mencantumkan ratusan pendapat ahli sejarah yang beragama Kristen yang mengatakan di Arablah ditemukan tanda-tanda turunan Nabi Ismail as. Wallahu’alam.

Iklan